Gudeg Kendil – Gudeg Bu Tjitro 1925 – Jogjakarta

0
231

Gudeg Kendil – Gudeg Bu Tjitro 1925 – Jogjakarta
Jalan Janti No. 330, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281, Indonesia
Telp : 0274 564734

gudeg-kendil

Paguyuban Pedagang Gudeg di Kota Yogyakarta menekan pemerintah daerah meningkatkan sentra-sentra kebun nangka di lokasi DIY manfaat menanggung pasokan gori (nangka muda) sebagai bahan baku paling utama makanan gudeg.

” Sampai kini pasokan gori banyak memercayakan dari Prembun, Jawa Tengah. Dari Yogya masih tetap belum mencukupi jumlah pasokannya, ” tutur Eni Hartono, yang memiliki Warung Gudeg Yu Djum, di sentra gudeg kampung Wijilan Kota Yogyakarta, Sabtu, 17 Oktober 2015.

Putri ragil dari pendiri gudeg Yu Djum itu menjelaskan, kerap kulakan gori dari Prembun yang dipasok pengepul ke Pasar Beringharjo lantaran karakteristik gorinya memanglah sesuai sama type gudeg yang khas dijual di Yogya, yaitu gudeg kering.

” Gori Prembun bila dimasak lama, dapat hingga kering akhirnya. Itu yang jadi ciri gudeg Yogya, ” katanya. Gudeg Yogya di buat kering dengan maksud lebih awet serta tahan lama lantaran kerap jadi oleh-oleh.

Tetapi, saat gori dari Prembun ini seret pasokannya, walau sebenarnya tingkat kunjungan wisata tengah tinggi, pedagang mesti memercayakan pasokan dari daerah lain yang terkadang tidak sesuai sama karakternya dengan type gudeg yang mau di jual. Umpamanya gori dari Sumatera.

” Bila gori Sumatera ini agak sulit di proses lantaran bila dimasak lama jadi jadi seperti jenang, bukanlah kering, ” katanya.

Walau sebenarnya, waktu musim kunjungan wisata seperti libur Lebaran atau th. baru, dalam satu hari Gudeg Yu Djum ini dapat melayani 1. 000 jumlah gudeg. Dengan keperluan gori seputar satu kuintal /hari.

” Saat ini pasokan gori Prembun di pasar masih tetap stabil, namun siapa yang tahu kelak dapat seret, ” tutur Eni.

Eni juga mengharapkan di daerah Kabupaten DIY yang mempunyai tempat luas dapat di ajak kerja sama pemerintah meningkatkan sentra kebun nangka itu semakin banyak manfaat menanggung ketersediaan stock.

” Bagaimanakah juga gudeg telah jadi kuliner yang senantiasa diburu wisatawan, ” tutur Eni.

Di Wijilan sendiri, sekarang ini ada warung-warung gudeg yang umumnya beroperasi mulai sejak th. 1960-an serta saat ini telah berkembang cabangnya di beberapa pojok kota sampai mal-mal.

Danik, penerus gudeg Bu Slamet di kampung Wijilan mengakui bila pasokan gori masih tetap menggantungkan dari lokasi luar DIY, terlebih Jawa Tengah.

” Namun sampai kini tidak ada permasalahan masalah pasokan, harga nya juga relatif stabil serta terjangkau, tidak naik turun, ” tutur Danik. Harga gori sekitar Rp 5. 000-6. 000 per kg.

Be Sociable, Share!

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    *