Soto Ayam & Ayam Goreng Bangkong – Puncak Bogor

0
337

Soto Ayam & Ayam Goreng Bangkong – Puncak Bogor
JL. Raya Puncak, Km 84, Cisarua, Leuwimalang, Cisarua, Bogor 16750, Indonesia
Telp : 0251 8252821

soto bangkong puncak

SOTO, menu yang satu ini telah menyebar dibeberapa kota besar di lokasi Indonesia. Di tiap-tiap kota, soto di sajikan dengan ciri khasnya masing-masing , baik dari sisi kuah ataupun isiannya, seperti Soto Bangkong yang telah jadi soto khas dari Kota Semarang.
Soto ini memakai ukuran mangkok yang lebih kecil dari ukuran mangkok umum dalam penyajiannya. Terbagi dalam nasi, bihun, taoge, potongan tomat, suwiran daging ayam serta siraman kuahnya yang bening. Tidak lupa, diatasnya ditaburi dengan irisan daun seledri serta bawang goreng. Juga sebagai pelengkapnya, ada sate kerang, sate jerohan, tahu serta tempe bacem, sate jerohan dan sate telur puyuh yang teratur rapi diatas meja.
Untuk nikmati Soto Bangkong khas Semarang ini, kita dapat datang ke Jl. Bangkong (dekat lampu merah samping kantor polisi) juga sebagai pusat soto ini mulai di kenal. Kedai ini mulai melayani beberapa pembelinya sehari-hari mulai sejak jam 07. 00 hingga jam 22. 00.
Harga yang di tawarkan memanglah terbilang agak mahal, seputar Rp 8. 500 untuk ukuran soto dengan jumlah mini. Tetapi harga itu cukup sepadan dengan rasa yang disuguhi soto ini. Terkecuali di kedai ini, kita dapat juga nikmati soto bangkong di sebagian cabang yang lain yang telah menyebar didalam kota Semarang serta di sebagian kota yang lain.
Alunan gending Jawa serta nyanyian seseorang sinden menyongsong kehadiran suaramerdeka. com waktu masuk Rumah Makan Soto Ayam Bangkong. Sesudah memperoleh tempat du­duk, seseorang pelayan datang meng­hampiri serta ajukan pertanyaan, ”Sotonya berapakah, Mas? Minumnya? ”
Dengan akrab penuh keramahan, karyawan berbaju batik itu ke­mudian mempersilakan untuk menanti pesanan yang diinginkan. Tidak hingga lima menit, soto dalam mangkok ukuran tengah bermotif China, irisan jeruk, semangkuk sate telor, sate ayam, serta sate kerang, dan sepiring tempe goreng serta bergedel sudah disajikan.
Perlakuan itu juga diberikan beberapa karyawan pada tiap-tiap pengunjung yang datang untuk nikmati soto khas Semarang, Soto Bangkong.
Menurut pendirinya, Haji Sholeh Sukarno (99), Soto Bangkong berdiri mulai sejak 1950-an. Saat sebelum mempunyai lima cabang, Haji Sholeh menjajakannya dengan angkring bambu yang dipikul dengan jalan kaki.
” Saya lahir di Cawas, Klaten. Datang ke Semarang pada 1950 serta jalan kaki dari kampung halaman tiga hari tiga malam sendirian. Modal saya cuma tekad keras untuk bekerja, ” papar suami dari almarhumah Musinah serta bapak dari lima anak itu.
Sesudah tiba di Semarang, dia segera menuju tempat tinggal Mangun, penjual soto keliling yang ada di Kampung Karangkojo, Kelurahan Sarirejo, Kecamatan Semarang Timur. Mangun adalah karyawan bapak Haji Sholeh yang pada awal mulanya pernah berjualan soto di depan Kantor Pos Bangkong.
Sesudah mengungkapkan maksud kehadirannya, Haji Soleh di beri angkringan oleh Mangun untuk berjualan sendiri keliling Kampung Karangkojo serta Karangsaru. Sesudah sebagian minggu berjualan keliling, Haji Sholeh pada akhirnya di beri mandat oleh Kepala Kantor Pos Bangkong waktu itu, Sutiyono, untuk buka dagangannya di samping kantor.
Ia dengan suka hati bikin tenda memiliki ukuran 3 x 4 mtr. dengan tiang bambu. Harga satu mangkok soto yang ia jual pada 1950 hanya Rp 5 sen. Berbekal pesan yang didapatkan bapak kandungnya, supaya menggunakan resep yang pas dengan lidah customer Semarang, serta keramahan dalam melayani konsumen, usaha soto Haji Sholeh selalu berkembang.
” Pada 1957 harinya Jumat Pahing, saya beli kios di samping kantor pos, harga nya Rp 750 ribu serta saya angsur sepanjang delapan th.. Lantaran pengunjung selalu berdatangan, saya lalu beli lagi tanah di sebelahnya serta jadilah seperti ini, ” tutur Sholeh yang mengakui tak pernah mengenyam pendidikan, walau demikian dapat membaca serta menulis itu.
Sekarang ini kios usaha soto Sholeh juga berkembang jadi besar serta mempunyai sebagian cabang. Cabang yang didirikan dikelola oleh anak-anaknya. Beberapa orang bahkan juga menduga, cabang-cabang Soto Bangkong yang di buka dengan system waralaba seperti KFC atau Mc Donald.
Walau sebenarnya, semua cabang yang ada dipunyai dikelola oleh keluarganya sendiri. Dengan berjualan Soto Bangkong, Haji Sholeh dapat menyekolahkan anak-anaknya hingga ke luar negeri serta sudah naik haji 2 x. Soto Bangkong saat ini sudah jadi salah satu legenda wisata kuliner khas Semarang.
Satu jumlah Soto Bangkong diisi suiran daging ayam, irisan tomat, bihun, tauge, taburan bawang putih serta merah, dan nasi dapat digabung ataupun dipisah dengan kuah. Soto Bangkong disajikan dalam ukuran mangkok yang kecil namun tinggi.
Tiap-tiap satu mangkok soto, karyawan Soto Bangkong senantiasa melengkapinya dengan menghidangkan lauk seperti sate daging ayam, sate kerang, sate telur puyuh, tempe, tahu, perkedel serta beragam aneka minuman panas serta dingin.
Soto Bangkong juga banyak dikunjungi oleh pelanggan lantaran dinilai ada kecocokan rasa. Tidak cuma petinggi Kota Semarang ataupun Propinsi Jawa Tengah sebagai pelanggan setia Soto Bangkong, petinggi dari luar kota atau luar propinsi.
” Tempo hari (belum lama ini-red) bekas Wakil Presiden Juiceuf Kalla barusan singgah kesini, Presiden SBY bila ke Semarang juga singgah kesini. Saat Gus Dur masih tetap hidup, beliau juga kerap kesini, ” tuturnya.
Soto Bangkong saat ini bukan sekedar yang ada di Jalan Brigjend Katamso, ke lima anaknya sudah buka cabang di Jalan Setia Budi No 229 Srondol Banyumanik, Jalan Magelang KM 10 Yogyakarta, Jalan Pakubuwono Jakarta, Puncak Bogor, serta Cikampek, Jawa Barat.
” Soto Bangkong yang ada di Jalan Setiabudi Srondol dikelola oleh anak pertama saya, dulu dia cuma saya modali angkringan, satu ekor ayam serta enam mangkok soto saja. Alhamdulillah, saat ini telah berkembang, ” tutur Haji Sholeh yang juga kakek dari enam cucu serta 13 cicit itu.

Be Sociable, Share!

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    *